-->

Iklan Billboard 970x250

ALIRAN KEBATINAN PERJALANAN

Iklan 728x90

ALIRAN KEBATINAN PERJALANAN


A.    Pengertian Aliran Perjalanan
Nama perjalanan diambil dari gambaran air yang mengalir mulai dari sumbernya melalui sungai sampai akhirnya ke lautan. Sepanjang perjalanan, air telah memberikan unsure yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia. Gambaran ini sebagai ibarat  perjalanan manusia sebagai indivudu agar senantiasa berdarma bakti dan berbuat baik kepada sesama untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Jadi aliran kebatinan Perjalanan mempunyai pedoman hidup sejarah diri dan dalam kehidupan bernegara yang harus sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 dan tidak boleh menyimpang dari dua dasar tersebut dan aliran kebatinan Perjalanan tidak mempunyai kitab seperti aliran kebatinan lainnya, misalnya kebatinan Pangestu memakai kitab Sasangko Jati, dan Sapto Darmo menggunakan Kitab Cendro. Aliran Kebatinan "Perjalanan" meyakini bahwa setiap manusia adalah kitab yang ditulis oleh Tuhan.

B.    Sejarah Asal-Usul Aliran Perjalanan
Aliran perjalanan didirikan pada tanggal 17 September 1927 di Cimerta Kabupaten Subang oleh Mei Kartawinata bersama dua orang temannya, M. Rasyid dan Sumitra. Aliran ini mempunyai nama lain, yaitu :
a.    Aliran Kuring, sebelum kemerdekaan. Mei Kartawinata ketika menerangkan ajarannya di mana-mana selalu menyebut “ inilah Agama Kuring” (artinya agama saya), maksudnya “agama asli Sunda”.
b.    “Permai” (perikemanusiaan), sesudah kemerdekaan. Pada tanggal 7 November 1948, Mei Kartawinata diangkat sebagai Bapak Rohani.
c.    “Agama Yakin pancasila” juga disebut “Agama Sunda”, disebut lagi “Perjalanan” di Bandung
d.    “Agama Petrap”  juga disebut “Traju Trisna”, disebut lagi “Ilmu sejati” dan “Jawa Jawi Mulya”. Di Tulungagung.
e.    “Aliran Perjalanan”, yang terakhir.
Mei Kartawinata lahir pada tanggal 1 Mei 1987 di kebon Jati Bandung. Pendidikannya Sekolah Rakyat atau HIS (Hollands Inlands School) di zaman pemerintahan Belanda. Ketika masih remaja ia tinggal bersama kakak iparnya di kediaman Sultan Kanoman Cirebon. Ia banyak mengetahui ajaran kebatinan di kalangan keluarga keraton Cirebon, seperti Ilmu Sejati. Di Cirebon ia berhubungan erat dengan Mohammad Ishak yang sering disebut Kiai Sambelun karena mengjarkan ilmu yang disebut ilmu sambelun. Mei Kartawinata kembali ke Subang dan mendirikan aliran Perjlanan pada tahun 1927. Jika di Cirebon ia dicurigai membantu Belanda, sebaliknya di Subang ia memimpin perjuangan melawan Belanda dengan menggunakan aliran Perjalanan sebagai sarana.
Mohammad Ishak lahir pada tahun 1890 di desa Bodeh Plumbon Kabupaten Cirebon. Ia pernah belajar tarekat Nadhatul Arifin, yaitu tarekat yang memberikan tuntunan kepada seseorang ingin mencapai makrifat billah atau arifin billah, mengetahui Allah dengan sebenar-benarnya. Untuk mencapai makrifat billah, seseorang harus mengetahui rahasia alif, lam, mim yaitu Allah-Mohammad-Adam, sempurnanya harus mengetahui pula Alquran dan Hadis. Akan tetapi bukan Al quran dan Hadis dalam bentuk tulisan Arab yang ditulis diatas kertas, melainkan tulisan yang sejati. Demikianlah yang disebut ilmu sambelun.
Di samping memimpin aliran perjalanan, Mei Kartawinata dalam kehidupan sehari-hari juga dikenal memiliki kemampuan mengobati orang sakit secara tradisional tanpa memungut bayaran. Melalui sarana inilah ia menyampaikan ajarannya kepada orang lain. Mei Kartawianata meninggal dunia pada tahun 1967 di Jalan Cikutra Cidadas Bandung.
Mengenai dua orang teman Mei Kartawinata, yakni M. Rasyid dan Sumitra, riwayat hidup mereka tidak banyak diketahui. Pada Tahun 1926 M, M. Rasyid dan Sumitra datang ke Subang untuk bekerja di percetkan tempat Mei Kartawinata bekerja. Akhirnya ketiga orang ini menjadi kawan akrab. M. Rasyid dan Sumitra, sama-sama memiliki ilmu kanuragan atau kesaktian. Berbeda dengan mereka, Mei Kartawinata tidak menyukai ilmu kanuragan. Yang penting bagi Mei Kartawinata adalah hidup damai dan saling menghormati antara sesama. Ia selalu peduli terhadap orang lain. Karena ia mempuyai kemampuan pengobatan alternatif, bila ada orang sakit ia berusaha mengobatinya.

C.    Sebab-Sebab Aliran Perjalanan Banyak Pengikut.
Aliran perjalanan yang merupakan kepercayaan asli orang Sunda ini disebarkan oleh Mei Kartawinata dengan memanfaatkan kemampuannya mengobati orang sakit secara tradisional tanpa memungut biaya. Oleh karena itu masyarakat banyak yang simpati dan mengikuti aliran tersebut.
Di Subang Mei Kartawinata memimpin perjuangan melawan Belanda dengan menggunakan aliran Perjalanan sebagai sarana. Dari situlah masyarakat mulai mengikuti aliran Perjalanan.

D.    Landasan Ajaran Aliran Perjalanan
Ajaran aliran Perjalanan berdasarkan pada wangsit yang diterima oleh Mei Kartawinta. Ia menerima wangsit itu berkali-kali sampai ada sepuluh kali yang disebut Dasa Wasita seperti berikut :
Wangsit pertama :
“Janganlah dirimu dihina dan direndahkan oleh siapa pun, sebab dirimu tidak lahir dan tidak besar oleh sendirinya, tetapi dirimu dilahirkan dan dibesarkan penuh dengan cinta kasih ibu dan bapakmu. Bahkan dirimu itu sendirilah yang melaksanakan segala kehendak dan cita-citamu yang seyogyanya kamu berterima kasih kepadanya.”

Wangsit kedua :
“Brang siapa menghina dan merendahakan dirimu, sama juga artinya dengan menghina dan merendahkan ibu bapakmu bahkan leluhur bangsamu.”
Wangsit ketiga :
“Tiada lagi kekuatan dan kekuasaan yang melebihi kekuatan dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, Belas dan Kasih. Sifat belas dan kasih itu pun dapat mengatasi dan menyelesaikan segala pertentangan atau pertengkaran, bahkan dapat memadukan paham dan usaha untuk mencapai tujuan yang lebih maju serta menyempurnakan akhlak dan meluhurkan budi pekerti manusia.”

Wangsit keempat :
“Dengan kagum dan takjub kamu menghitung tetesan air yang mengalir yang menuju kesatuan mutlak, yaitu lautan sambil memberikan manfaat kepada kehidupan manusia, binatang, dna pepohonan atau tetumbuhan. Akan tetapi kamu belum pernah mengagumi dan takjub kepada dirimu sendiri yang telah mempertemukan kamu dengan dunia beserta segala isinya. Bahkan kamu belum pernah menghitung kedip matamu. Sungguh betapa nikmatnya apa yang kamu rasakan, padahal semua itu sebagai hikmah dari Tuhan Yang Maha Esa.”

Wangsit kelima :
“K man pun kamu perghi dan di mana pun kamu berada Tuhan Yang Maha Esa akan selalu bersama denganmu.”

Wangsit keenam :
“Perubahan besar alam kehidupan manusia akan menjadi pembalasan terhadap segala penindasan serta mencetuskan ataumelahirkan kemerdekaan hidup bangsa.”

Wangsit ketujuh :
“Apabila pengetahuan disertai kekuatan raga dan jiwamu digunakan secara salah untuk memuaskan hawa nafsu, akan menimbulkan dendam kesumat, kebencian, pembalasan, dan perlawanan. Sebaliknya apabila pengetahuan dan kekuatan raga dan jiwamu digunakan untuk menolong sesama akan menumbuhkan rasa kasih sayang dan persaudaraan yang mendalam.”

Wangsit kedelapan :
“Cintailah sesama hidupmu tanpa memandang jenis dan rupa, sebab apabila telah meninggalkan jasad, siapa pun akan berada dalam keaaan yang sama. Ia tidak mempunyai daya dan upaya. Justru selama itu, selama kamu masih hidup, berusahalah agar kamu dapat memelihara kelangsungan hidup sesama sesuai dengan kodrat-Nya menurut kehendak Tuhan Yang Maha Esa.”

Wangsit kesembilan :
“Batu di tengah sungai, jikalau olehmu digarap menurut kebutuhan, kamu menjadi kaya karenanya. Dalam hal itu yang membuat seseorang kaya raya bukanlah pemberian batu itu, tetapi yang membuat kaya raya adalah hasil kerjamu sendiri.”

Wangsit kesepuluh :
“Geraklah untuk kepentingan sesamamu, bantulah yang sakit untuk mengurangi penderitaannya. Kemudian hari akan tercapailah masyarakat kemanusiaan yang menggerakkan kemerdekaan dan kebenaran” (Rozak, 2002:178-185).
Dasa Wasita (kesepuluh wangsit) tersebut di atas, bila diringkas intinya adalah sebagai berikut :
1.    Antara sesama dilarang saling menghina.
2.    Menghina kepada seseorang hakikatnya juga menghina kepada ayah dan ibunya bahkan nenek moyangnya.
3.    Tidak ada yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, kecuali Tuhan Yang Maha Esa, Yang Belas Kasih. Sifat belas dan kasih itu dapat menyempurnakan akhlak dan meluhurkan budi pekerti.
4.    Air yang senantiasa menghidupi tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia, mengandung hikmah agar manusia sebagai individu selalu berbuat baik kepada sesama.
5.    Tuhan Yang Maha Esa selalu berada dekat dengan manusia.
6.    Dinamika hidup dan kehidupan manusia akan membawa kebebasan dari penindasan.
7.    Pemuasan hawa nafsu akan membawa kekacauan dan kehancuran.
8.    Antara sesama harus saling cinta-mencintai agar terpelihara kehidupan bersama.
9.    Kekayaan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dengan kerja keras.
10.    Antara sesama harus saling tolong-menolong terutama dalam menegakkan kebenaran.
 Bila disimak secara seksama, sepuluh butir Dasa Wasita tersebut di atas, semuanya berisi ajaran moral sebagai pedoman hidup manusia dalam hidup bersama, khususnya anggota atau warga aliran Perjalanan.
Setelah wangsit itu diterima, maka didirikan aliran Perjalanan. Nama perjalanan tampaknya diambil dari gambaran air yang mengalir mulai dari sumbernya melalui sungai sampai akhirnya ke lautan. Sepanjang perjalanan, air telah memberikan unsur yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia. Gambaran perjalanan air ini sebagai ibarat perjalanan kehidupan manusia sebagai individu agar senantiasa berdarma bakti dan berbuat baik kepada sesama untuk mencapai kesejahteraan bersama. Konsep ini juga dipandang selaras dengan konsep Pancasila yang mengandung makna sosial religius. Karenanya aliran Perjalanan juga dipandang mempunyai peranan dalam kehidupan negara yang berdasarkan Pancasila. Berdasarkan konsep ini pulalah agaknya, aliran ini disebut “Agama Yakin Pancasila”.
Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

1 comment

Post a Comment

Iklan-iklan

loading...