-->

Iklan Billboard 970x250

KISAH RORO JONGGRANG (ASAL MUASAL CANDI PRAMBANAN)

Iklan 728x90

KISAH RORO JONGGRANG (ASAL MUASAL CANDI PRAMBANAN)


Pada jaman dahulu kala di pulau Jawa terutama di daerah Prambanan berdiri 2 buah kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Pengging dan Kraton Boko. Kerajaan Pengging adalah kerjaan yang subur dan makmur yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Damar Moyo dan mempunyai seorang putra laki-laki yang bernama Raden Bandung Bondowoso.
Kraton Boko berada pada wilayah kekuasaan kerajaan Pengging yang diperintah oleh seorang raja yang kejam dan angkara murka yang tidak berwujud manusia biasa tetapi berwujud raksasa besar yang suka makan daging manusia, yang bernama Prabu Boko. Akan tetapi Prabu Boko memiliki seorang putri yang cantik dan jelita bak bidadari dari khayangan yang bernama Putri Roro Jonggrang.
Prabu Boko juga memiliki patih yang berwujud raksasa bernama Patih Gupolo. Prabu Boko ingin memberontak dan ingin menguasai kerajaan Pengging, maka ia dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan dan mengumpulkan bekal dengan cara melatih para pemuda menjadi prajurit dan meminta harta benda rakyat untuk bekal.
Setelah persiapan dirasa cukup, maka berangkatlah Prabu Boko dan prajurit menuju kerajaan Pengging untuk memberontak. Maka terjadilah perang di Kerajaan Pengging antara para prajurit Pengging dan para prajurit Kraton Boko.
Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak dan rakyat Pengging menjadi menderita karena perang, banyak rakyat kelaparan dan kemiskinan.
Mengetahui rakyatnya menderita dan sudah banyak korban prajurit yang meninggal, maka Prabu Damar Moyo mengutus anaknya Raden Bandung Bondowoso maju perang melawan Prabu Boko dan terjadilan perang yang sangat sengit antara Raden Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko. Karena kesaktian Raden Bandung Bondowoso maka Prabu Boko dapat dibinasakan. Melihat rajanya tewas, maka Patih Gupolo melarikan diri. Raden Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo ke Kraton Boko.
Setelah sampai di Kraton Boko, Patih Gupolo melaporkan pada Puteri Roro Jonggrang bahwa ayahandanya telah tewas di medan perang, dibunuh oleh kesatria Pengging yang bernama Raden Bandung Bondowoso. Maka menangislah Puteri Roro Jonggrang, sedih hatinya karena ayahnya telah tewas di medan perang.
Maka sampailah Raden Bandung Bondowoso di Kraton Boko dan terkejutlah Raden Bandung Bondowoso melihat Puteri Roro Jonggrang yang cantik jelita, maka ia ingin mempersunting Puteri Roro Jonggrang sebagai istrinya.
Akan tetapi Puteri Roro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso karena ia telah membunuh ayahnya. Untuk menolak pinangan Raden Bandung Bondowoso, maka Puteri Roro Jonggrang mempunyai siasat. Puteri Roro Jonggrang manu dipersunting Raden Bandung Bondowoso asalkan ia sanggup mengabulkan dua permintaan Puteri Roro Jonggrang. Permintaan yang pertama, Puteri Roro Jonggrang minta dibuatkan sumur Jalatunda sedangkan permintaan kedua, Puteri Roro Jonggrang minta dibuatkan 1000 candi dalam waktu satu malam.
Raden Bandung Bondowoso menyanggupi kedua permintaan puteri tersebut. Segeralah Raden Bandung Bondowoso membuat sumur Jalatunda dan setelah jadi ia memanggil Puteri Roro Jonggrang untuk melihat sumur itu.
Kemudian Puteri Roro Jonggrang menyuruh Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur. Setelah Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur, Puteri Roro Jonggrang memerintah Patih Gupolo menimbun sumur dan Raden Bandung Bondowoso pun tertimbun batu di dalam sumur. Puteri Roro Jonggrang dan Patih Gupolo menganggap bahwa Raden Bandung Bondowoso telah mati di sumur akan tetapi di dalam sumur ternyata Raden Bandung Bondowoso belum mati maka ia bersemedi untuk keluar dari sumur dan Raden Bandung Bondowoso keluar dari sumur dengan selamat.

Raden Bandung Bondowoso menemui Puteri Roro Jonggrang dengan marah sekali karena telah menimbun dirinya dalam sumur. Namun karena kecantikan Puteri Roro Jonggrang kemarahan Raden Bandung Bondowoso pun mereda.
Kemudian Puteri Roro Jonggrang menagih janji permintaan yang kedua kepada Raden Bandung Bondowoso untuk membuatkan 1000 candi dalam waktu 1 malam. “Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi masih ada satu syarat lagi”, katanya. “Syarat apalagi yang kamu inginkan? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?”. “Bukan itu, tuanku, kata Roro Jonggrang. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah. “Seribu buah?” teriak Bondowoso. “Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam.” Bandung Bondowoso menatap Roro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah. Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya. “Saya percaya tuanku bisa membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!”, kata penasehat. “Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!”.
Setelah perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar. “Pasukan jin, Bantulah aku!” teriaknya dengan suara menggelegar. Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso. “Apa yang harus kami lakukan Tuan ?”, tanya pemimpin jin. “Bantu aku membangun seribu candi,” pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing. Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah..
Sementara itu, diam-diam Roro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia cemas, mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan jin. “Wah, bagaimana ini?”, ujar RoroRJonggrang dalam hati. Ia mencari akal. Para dayang dan pemuda kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami. “Cepat bakar semua jerami itu!” perintah Roro Jonggrang kepada para pemuda istana. Dan para dayang disuruhnya menumbuk lesung. Dung… dung…dung! Semburat warna merah memancar ke langit dari arah timur Prambanan dengan diiringi suara hiruk pikuk, suara tumbukan lesung dan suara ayam berkokok, sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing.
Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing. “Wah, matahari akan terbit!” seru jin. Maka para jin menemui Raden Bandung Bondowoso dan berkata “Maaf tuanku kami tidak bisa melanjutkan untuk membangun candi karena fajar telah tiba”. Maka para jin pun pergi seketika lenyap meninggalkan tempat pembangunan candi. 
Raden Bandung Bondowoso pun terheran-heran mengapa fajar begitu cepat datang. Melihat keanehan itu maka Raden Bandung Bondowoso menghampiri sumber sinar kemerahan yang berasal dari arah timur Prambanan. Ternyata dilihatnya para pemuda yang sedang membakar jerami. “O…ternyata kalian yang telah membuat para jin kabur”, kata Raden Bandung Bondowoso. “Kami hanya diperintah”, kata para pemuda. “Diperintah oleh siapa?”, “Oleh Roro Jonggrang”, kata para pemuda. Mendengar itu Bandung Bondowoso langsung kaget dan membunuh para pemuda itu.
Dan setelah itu Raden Bandung Bondowoso berusaha membangun kekurangan candi yang hanya kurang satu buah. Tetapi ternyata fajar benar-benar telah muncul dan tidak mungkin lagi untuk membangun candi. Karena merasa gagal maka Bandung Bondowoso mencari dan menghampiri sumber bunyi-bunyian pukulan lesung. Ternyata di sana terdapat para gadis yang sedang menumbuk lesung, karena telah tahu bahwa Roro Jonggrang membohonginya dan membodohinya, maka para gadis tersebut dikutuk tidak akan pernah menikah sampai usia tua (perawan tua). “Ternyata kalian yang telah mengganggu usahaku untuk membangun candi dan karena kalian telah ikut membantu Roro Jonggrang untuk menggagalkan usahaku, maka kalian akan aku kutuk tidak akan pernah menikah sampai usia tua (perawan tua)”, kata Bandung Bondowoso.
Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Roro Jonggrang ke tempat candi. “Candi yang kau minta sudah berdiri!”. Roro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!. “Jumlahnya kurang satu!” seru Roro Jonggrang. “Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan”. Karena Bandung Bondowoso sudah tahu bahwa telah dibohongi dan dibodohi oleh Roro Jonggrang, maka ia menjadi sangat marah dan murka terhadap Roro Jonggrang. Karena itu Bandung Bondowoso menatap tajam pada Roro Jonggrang dan berkata “Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!” (sambil mengarahkan jarinya pada Roro Jonggrang). Ajaib! Roro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Roro Jonggrang.


Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

Post a Comment

Iklan-iklan

loading...