-->

Iklan Billboard 970x250

RASULAN DI GUNUNGKIDUL (ARTI DAN HAL YANG DIPERLUKAN)

Iklan 728x90

RASULAN DI GUNUNGKIDUL (ARTI DAN HAL YANG DIPERLUKAN)

A. Arti Rasulan
Dalam satu tahun sekali tiap-tiap desa di Gunung Kidul pasti selalu melaksanakan kegiatan bersih desa atau sering disebut oleh orang Gunung Kidul sebagai acara “rasulan”. Acara ini merupakan acara rutin yang dilaksanakan setiap tahun sekali untuk wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mana telah melimpahkan rahmat dan nikmat kepada warga masyarakat sekitar.
Sebagai contoh kegiatan bersih desa “rasulan” yang dilaksanakan di daerah desa Nglipar, Gunung Kidul. Bersih desa yang dilaksanakan di desa Nglipar merupakan salah satu agenda kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun sekali dan ini dilaksanakan biasanya pada bulan-bulan atau waktu masa panen hasil tani. Kegiatan ini dilaksanakan untuk wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat dan rahmat kepada warga desa Nglipar, Gunung Kidul, sekaligus doa agar pada masa yang akan datang senantiasa memperoleh perlindungan dan selamat dari segala mara bahaya serta limpahan berkah hingga dapat panen melebihi tahun sebelumnya
Warga masyarakat menganggap acara ini merupakan acara yang harus dilaksanakan setiap tahun karena ini merupakan tradisi di desa Nglipar dan juga tradisi di setiap daerah di Gunung Kidul. Dalam acara bersih desa “rasulan” ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan untuk mengisi acara bersih desa “rasulan” seperti adanya jathilan/reog, kenduri, dan digelarnya  wayang kulit semalam suntuk di balai desa masing-masing.
Dalam menggelar acara bersih desa “rasulan” ini dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biaya tersebut ternyata biaya tersebut berasal dari iuran dari warga masyarakat desa Nglipar yang iurannya diambil per kepala keluarga yang sebelumnya sudah dibicarakan dalam rapat di balai desa yang dihadiri oleh perwakilan warga desa Nglipar dan kepala desa. Jadi kegiatan bersih desa “rasulan” ini merupakan kegiatan atau kebudayaan yang memang dirasa sangat perlu dilaksanakan dan dilestarikan bagi warga masyarakat desa Nglipar sebagai wujud rasa syukur atas kelimpahan karunia dan nikmat yang dilimpahkan oleh Allah SWT. Acara bersih desa “rasulan” ini memang selalu ditunggu-tunggu oleh warga masyarakat desa Nglipar karena selain ada acara-acara yang menarik digelar dalam acara bersih desa “rasulan”, juga karena acara ini bisa mendekatkan diri antara warga masyarakat sekitar dan Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat, karunia, dan nikmat kepada warga masyarakat desa khususnya di desa Nglipar, Gunung Kidul.

Gambar : Kegiatan Kenduri dalam Acara Rasulan

B. Hal-hal yang Diperlukan dalam Acara Bersih Desa
Dalam menyelenggarakan acara rasulan diperlukan persiapan-persiapan yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum acara ini digelar. Persiapan-persiapan tersebut seperti pembahasan mengenai pengumpulan dana, mencari pihak yang mengisi acara dalam acara bersih desa “rasulan”, dan tempat untuk menggelar acara bersih desa “rasulan”.
Setelah semua persiapan dipenuhi tentulah hari dalam penyelenggaraan acara bersih desa “rasulan” sudah siap dilaksanakan. Dalam menentukan hari untuk menggelar acara bersih desa “rasulan”, biasanya ditentukan dengan penghitungan secara kejawen, artinya hari pelaksanaan acara bersih desa “rasulan” merupakan hari yang baik sesuai dengan penghitungan yang dilakukan oleh salah satu tetua di desa Nglipar.
Dalam pelaksanaan acara bersih desa “rasulan” di desa Nglipar, Gunung Kidul ada acara yang merupakan acara paling penting dari kegiatan rasulan ini, yaitu keduri yang biasanya dilaksanakan sore hari pada saat penyelenggaraan acara bersih desa “rasulan”. Dan pada malam harinya dilaksanakan wayang kulit semalam suntuk yang merupakan puncak dari acara bersih desa “rasulan”.
Kegiatan kenduri dalam acara bersih desa “rasulan” merupakan acara yang paling penting karena ini merupakan kegiatan inti dari acara bersih desa ”rasulan”. Artinya acara kegiatan kenduri inilah yang merupakan acara yang mana di dalamnya nanti ada doa-doa untuk wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat, karunia, dan nikmat kepada warga desa Nglipar, sekaligus doa agar pada masa yang akan datang senantiasa memperoleh perlindungan dan selamat dari segala mara bahaya serta limpahan berkah hingga dapat panen melebihi tahun sebelumnya. Dan dalam menapaki kehidupan di dunia ini selalu mendapatkan petunjuk-Nya agar bisa hidup dalam jalan yang dirahmati dan dirodloi oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam acara kenduri ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan oleh para warga di desa Nglipar, Gunung Kidul untuk bisa melaksanakan acara kenduri dalam menyambut acara bersih desa “rasulan”, yaitu sesaji yang berupa :
1. Tumpeng, berupa nasi putih berbentuk kerucut yng ujungya lancip melambangkan sebuah pengharapan kepada Yang Maha Agung agar permohonannya dapat terkabul.
2. Nasi Giling dalam bahasa Jawa dikenal dengan “gilingan”, ini berupa nasi putih yang dibentuk dengan tangan sehingga nasi tersebut membentuk seperti gunung, tetapi nasi giling “gilingan” ini tidak lancip seperti tumpeng. Ini bermaksud untuk menyatakan betapa besar rasa syukur kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia, rahmat, dan kenikmatan kepada warga desa Nglipar.
3. Lauk pauk atau sering disebut dengan “uba rampe”, ini berupa lauk pauk yang berupa tempe, tahu, sayur lombok kentang dan tahu, daging, dan telor. Tapi ada juga sebungkus krupuk. Lauk pauk di sini bermaksud untuk memberikan gambaran betapa bersyukurnya dan betapa ikhlasnya warga desa Nglipar atas apa yang diberikan oleh Tuhan Yanga Maha Esa dengan menyajikan macam-macam “uba rampe” dalam acara kenduri.
4. Nasi Gurih, berupa nasi putih yang diberi santan, garam dan daun salam sehingga rasanya gurih sebagai lambang keselamatan. Di daerah Nglipar, Gunung Kidul nasi gurih ini sering disebut dengan “nasi uduk”.
5. Ingkung, berupa ayam kampung yang dimasak utuh, sebagai lambang pasrah pada kekuasaan Yang Maha Agung.
6. Jajanan Pasar, ini berupa jajanan dari bermacam makanan yang dibeli di pasar untuk mendapatkan kelimpahan dalam mengerjakan sawah.
Selain itu, juga dipersiapkan sesaji lainnya yang diletakkan di rumah warga masing-masing berupa :
1. Jadah, dibuat dari beras ketan yang ditumbuk bersama parutan kelapa sampai halus dan lekat, sebagai lambang kelekatan antar warga dan antara warga dengan Tuhan Yang Maha Esa yang sulit dipisahkan.
2. Nasi giling “gilingan” sejumlah dua, dibuat dari nasi putih yang dibentuk dengan tangan sehingga bentuknya menjadi setengah lingkaran. Ini sebagai lambang besarnya wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
3. Lauk Pauk atau sering disebut dengan uba rampe, terdiri dari tempe bacem, tahu bacem, sayur lombok kentang dan tahu, emi, dan krupuk. Ini melambangkan rasa syukur dan keikhlasan warga yang telah mendapatkan nikmat dan karunia, sehingga menyajikan macam-macam uba rampe dari hasil olahan bumi.
4. Tumpak atau sering disebut warga Nglipar dengan “jenang”, dibuat dari beras ketan yang ditumbuk bersama parutan kelapa dengan gula jawa atau gula kelapa sehingga rasanya manis. Tumpak “jenang” ini melambangkan kebahagiaan warga atas apa yang dilimpahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada warga Nglipar.
5. Bunga Rasulan, ini terdiri dari bunga mawar, melati, dan kenanga. Bunga rasulan ini melambangkan keharuman doa yang dipanjatkan warga Nglipar kepada Tuhan Yang Maha Esa.
6. Pisang Raja, ini melambangkan harapan kemuliaan warga kepada Tuhan YME.
7. Kemenyan, dalam tradisi di desa Nglipar kemenyan ini merupakan sarana untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
8. Air minum, berupa segelas air putih. Air minum ini melambangkan pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar jiwa warga desa Nglipar dikembalikan putih jernih seperti air putih.
 Sesaji di atas merupakan sebuah alat dan bukan wujud untuk bertindak syirik kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini dikatakan oleh bapak Karso Wiyono, salah satu warga desa Nglipar. Sesaji-sesaji yang dikeluarkan dalam menyambut acara bersih desa “rasulan” semuanya didoakan dengan tujuan mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa bukan untuk hal-hal yang bersifat syirik. Ini ditandai dengan adanya doa Islam dalam penutupan acara kenduri. 

Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

Post a Comment

Iklan-iklan

loading...