-->

Iklan Billboard 970x250

PENGARUH CHAIRIL ANWAR PADA PUISI MALAYSIA SURIPAN SADI HUTOMO

Iklan 728x90

PENGARUH CHAIRIL ANWAR PADA PUISI MALAYSIA SURIPAN SADI HUTOMO


Chairil Anwar sebagai tokoh penyair Indonesia modern  tidak saja berpengaruh pada para penyair sesudahnya, tetapi juga berpengaruh pada sastra minor (sastra Indonesia berbahasa daerah). Para penyair minor menganggap bahwa Chairil Anwar merupakan penyair yang membawa pembaharuan. Chairil Anwar tidak hanya berpengaruh di dalam negeri saja, tetapi juga telah berpengaruh di luar negeri terutama Malaysia.
Awal pertumbuhan puisi Malaysia modern sangat dipengaruhi oleh puisi Indonesia modern. Kata Drs. Li Chuan Siu dalam bukunya Ikhtisar Sejarah Pergerakan dan Kesusastraan Melayu Modern (1945-1965) “sajak-sajak itu memberikan pengaruh yang besar kepada penyair-penyair muda di Malaysia, mereka sangat tertarik oleh sajak-sajak gubahan Chairil Anwar…”. Pengaruh Chairil Anwar dalam puisi Malaysia juga dikemukakan oleh Yahaya Ismail, seorang kritikus sastra Malaysia. Dalam bukunya Sejarah Melayu Modern, ia mengatakan “… dua penyair yang terkemuka dari ASAS 50 mencontoh gaya Pujangga Baru dari Indonesia dan selepas itu meniru pula teknik kepenyairan pelopor Angkatan 45, Chairil Anwar…”.
Angkatan Sasterawan 50 atau lebih dikenal dengan sebutan ASAS 50 itu mempunyai konsep dan slogan tersendiri. Angkatan ini berslogan “Seni untuk Masyarakat” atau “Seni untuk Rakyat”. Di sini masyarakat yang diperjuangkan adalah masyarakat golongan rendah seperti petani, buruh, dan masyarakat miskin lainnya. Dalam karangan-karangannya, para penulis muda menceritakan keburukan, kepincangan, dan kekejaman yang didapati masyarakat miskin. Penentangan terhadap imperialisme Inggris dan golongan feodal Melayu pada waktu itu juga kelihatan dalam karya-karya angkatan ini. 
Sikap para pengarang angkatan 50 ini diantaranya ada yang terpengaruh oleh tokoh-tokoh politik nasionalis Melayu yang radikal pada waktu itu. Oleh karena itu, pada perkembangan selanjutnya angkatan ini mengalami perpecahan karena ada di antar anggotanya yang kemudian menganut faham “Seni untuk Seni”, yang sebenarnya semboyan ini tidak banyak berbeda dengan semboyan sebelumnya, yaitu “Seni untuk Masyarakat” atau “Seni untuk Rakyat”.

Di antara para penyair ASAS 50 yang dipengaruhi oleh Chairil Anwar adalah penyair Usman Awang dan Masuri S.N. Pengaruh itu pada umumnya terletak pada teknik persajakannya. Penyair Masuri S.N. itu pada mulanya terpengaruh oleh teknik persajakan Angkatan Pujangga Baru. Teknik ini dirasanya sudah ketinggalan zaman, lalu ia beralih pada teknik puisi Chairil Anwar. Ambillah misalnya puisinya yang berjudul Suasana yang dimuat dalam kumpulan sajak Warna Suasana (1962). Dalam puisi tersebut bila dibaca baik-baik, maka kita akan merasakan pengaruh teknik persajakan Chairil Anwar. Selain teknik, juga terasa adanya pengaruh nafas puisi Chairil Anwar. Misalnya perkataan “api membakar pulau”. Kata-kata ini mengingatkan kita pada kata-kata Chairil Anwar dalam puisinya yang berjudul “Cerita Buat Dien Tamaela”. Dalam puisi ini ada baris yang berbunyi “Irama ganggang dan api membakar pulau”.
Seperti halnya penyair Masuri S.N. penyair Usman Awang pada mulanya juga terpengaruh oleh teknik persajakan Angkatan Pujangga Baru dan kemudian terpengaruh oleh teknik persajakan Chairil Anwar. Misalnya dalam puisinya yang berjudul “Di Desa” (1961) ada baris yang berbunyi “Segala hilang, segala tumbang, segala lebur, segala gugur”. Baris ini mengingatkan kita pada baris-baris puisi Chairil Anwar yang berjudul “Selamat Tinggal”. Baris itu berbunyi “Segala menebal, segala mengental. Segala tak kukenal. Selamat tinggal….!!!”.
Adanya pengaruh Chairil Anwar pada puisi Malaysia sebenarnya tidak mengherankan kita sebab penyair Malaysia banyak membaca karya sastra dari Indonesia. Bahkan, karya sastra dari Indonesia itu dipelajari oleh murid-murid di sekolah. Bagi penyair Malaysia, apa yang dinamakan “pengaruh” itu dianggapnya sebagai “kesementaraan”. Artinya, adanya pengaruh itu tidaklah terus-menerus berlaku pada diri seorang penyair. Para penyair Malaysia akhirnya juga menyadari bahwa mereka harus menemukan diri mereka sendiri. Oleh karena itu, pada beberapa penyair yang sudah “mapan”, pengaruh itu telah menghilang. Mereka telah menemukan kepribadian mereka sendiri. Chairil Anwar sendiri dulu juga terpengaruh dari luar negeri, malah dia sampai hati berbuat plagiat. Hal yang demikian itu haruslah dipandang sebagai jiwa yang belum “dewasa”.
 Jadi, bila demikian halnya, kitra tidak boleh gegabah memandang rendah seorang penyair yang terpengaruh oleh penyair lainnya. Lebih-lebih pada maslah adanya pengaruh puisi Indonesia pada puisi Malaysia, sebab kata Ali Haji Ahmad dalam artikelnya yang berjudul “Pertumbuhan dan Perkembangan Puisi Baharu Melayu di Malaya”, “Walaupun ada terpengaruh oleh penyair baharu di Indonesia, tetapi mereka punya pribadinya tersendiri berdasarkan latar belakang masyarakatnya pula” (Dewan Bahasa, November 1957).

Pendapat saya:
Pendapat saya mengenai esai yang ditulis dalam buku Antologi Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indonesia Modern bahwa esai yang disajikan sudah kurang bagus karena dalam esai tersebut sudah dijelaskan bagian-bagian puisi Malaysia modern yang terdapat kemiripan dengan puisi karya Chairil Anwar dan diberikan contohnya, tetapi sayang puisi karya Chairil Anwar tidak ikut disajikan dalam esai, sehingga pembaca masih merasa kurang dengan tidak adanya puisi karya Chairil Anwar sebagai pembanding dengan karya sastra puisi karya penyair dari Malaysia. Dan juga dalam esai tersebut tidak ada teori-teori yang mendukung dalam pembuatan esai tersebut. 
Setelah membaca dan memahami artikel yang saya ringkas. Saya juga berpendapat bahwa karya sastra puisi yang dihasilkan oleh seorang sastrawan dalam hal ini adalah penyair merupakan karya sastra yang dapat mempengaruhi penyair lain, baik itu penyair dalam negeri maupun penyair luar negeri. Apabila dibandingkan antara puisi di Indonesia dengan di Malaysia, akan ditemukan kemiripan antara puisi modern Indonesia dengan puisi modern Malaysia. Ini disebabkan karena penyair Malaysia banyak terpengaruh oleh penyair-penyair dari Indonesia, lebih-lebih penyair yang memiliki nama Chairil Anwar. 
Hal ini membuktikan bahwa karya sastra puisi di suatu negara tidak hanya mempengaruhi perkembangan karya sastra puisi di negara tersebut, melainkan juga akan mempengaruhi perkembangan karya sastra puisi di negara lain. Hal ini dikarenakan penyair-penyair yang ada di suatu negara akan terus mencari karya sastra puisi mana yang dipandang telah berkembang yang selanjutnya dijadikan acuan dalam penulisan karya sastra puisi. Sehingga apabila karya sastra puisi antar negara dibandingkan, tidak menutup kemungkinan ada kemiripan yang ditemukan. 


Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

Post a Comment

Iklan-iklan

loading...