-->

Iklan Billboard 970x250

TINGKATAN BAHASA JAWA

Iklan 728x90

TINGKATAN BAHASA JAWA


1.       Tingkat Tutur Ngoko (Ragam Ngoko)
Yang dimaksud dengnan ragam ngoko adalah bentuk unggah-ungguh bahasa jawa yang berintikan ngoko, atau yang menjadi unsur inti di dalam ragam ngoko adalah ngoko bukan yang lain. Afiks yang muncul dalam ragam ini pun semuanya berbentuk ngoko (misalnya, afiks di-, -e, dan –ake). Ragam ngoko dapat digunakan oleh mereka yang sudah akrab dan oleh mereka yang merasa dirinya lebih tinggi status sosialnya daripada lawan bicara (mitra wicara). Ragam ngoko mempunyai dua bentuk variaitu ngoko lugu dan ngoko alus.
a.      Ngoko Lugu
Semua kosakatanya berbentuk ngoko dan netral tanpa terselip krama, krama inggil, atau krama andhap, baik untuk orang pertama, kedua, maupun ketiga.
b.     Ngoko Alus
Yang dimaksud dengan ngoko alus adalah bentuk unggah-ungguh yang di dalamnya bukan hanya terdiri atas ngoko dan netral saja, melainkan juga terdiri atas krama inggil, krama andhap, atau krama yang muncul di dalam ragam ini sebenarnya hanya digunakan untuk menghormati mitra wicara.

2.       Tingkat Tutur Krama(Ragam Krama)
Yang dimaksud dengan ragam krama adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang berintikan krama, atau yang menjadi unsur inti di dalam ragam krama adalah krama bukan yang lain. Afiks yang muncul dalam ragam ini pun semuanya berbentuk krama (misalnya, afiks dipun-, -ipun, dan –aken). Ragam krama digunakan oleh mereka yang belum akrab dan oleh mereka yang merasa dirinya lebih rendah status sosialnya daripada lawan bicara. Ragam krama mempunyai dua bentuk varian, yaitu krama lugu dan krama alus.

a.      Krama Lugu
Secara semantis ragam krama lugu dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk ragam krama yang kadar kehalusannya rendah. Meskipun begitu, jika dibandingkan dengan ngoko alus, ragam krama lugu tetap menunjukkan kadar kehalusan.

b.     Krama Alus
Yang dimaksud dengan krama alus adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya terdiri atas krama dan dapat ditambah dengan krama inggil atau krama andhap. Meskipun begitu, yang menjadi inti dalam ragam ini hanyalah yang berbentuk krama. Leksikon madya dan leksikon ngoko tidak pernah muncul di dalam tingkat tutur ini. Selain itu, krama inggil atau krama andhap –secara konsisten- selalu digunakan untuk penghormatan terhadap mitra wicara.

Secara semantis ragam krama alus dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk ragam krama yang kadar kehalusannya tinggi

1.     Tuladha ukara basa krama alus :
- Mbah kakung midhangetaken siyaran ringgit wacucal
- Pakdhe tindak dhateng Tawangmangu nitih bis
- Ibu saweg dhahar sekul goreng
- Simbah saweg sare

2.     Tuladha ukara basa ngoko alus :
- Mbah kakung midhangetaken siyaran wayang kulit
- Pakdhe tindak neng Tawangmangu numpak bis
- Eyang lagi dhahar sega goreng
- Simbah lagi sare

3.     Tuladha ukara basa krama lugu :
- Mbah kakung mirengaken siyaran wayang kulit
- Pakdhe kesah dhateng Tawangmangu nitih bis
- Yanti saweg nedha sekul goreng
- Simbah saweg tilem

4.     Tuladha ukara basa ngoko lugu :
- Mbah kakung ngrungokake siyaran wayang kulit
- Pakdhe lunga neng Tawangmangu numpak bis
- Aku lagi mangan sega goreng


Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

Post a Comment

Iklan-iklan

loading...